3 Dapatkah Pembelajaran Kolaboratif Diterapkan Di Jenjang Sekolah Dasar

Lulud Prijambodo Ario Nugroho

Pengembang Teknologi Penerimaan

LPMP Jawa Paruh

Penelaahan kolaboratif yaitu satu model pembelajaran memiliki ketatanegaraan pembelajaran nan dapat menguatkan karakter bergotong royong. Ide tadinya dari pengembangan pembelajaran ini adalah, bahwa membangun konsep itu harus berpasangan, tidak mandiri. Pembelajaran kolaboratif ditawarkan sreg waktu penelaahan new normal. Kok? Karena secara publik penataran pada musim new biasa sangat mengimajinasi siswa untuk mampu membiasakan secara mandiri. Kalaupun harus bekerja sama, itupun dengan ayah bunda atau saudara. Padahal mandu pangkal manusia adalah anak adam sosial.

Seiring dengan ide mulanya pengembangan pembelajaran kolaboratif, yaitu belajar harus berpasangan, maka dikembangkanlah pembelajaran kolaboratif varian online-nya. Mungkin kah? mengawasi teknologi informatika nan mutakadim suka-suka, pembelajaran kolaboratif sangat memungkinkan dilaksanakan secara daring. Hal ini seperti mengembalikan jatah makan manusia sebagai mahkluk social…belajar bersama, membangun konsep secara bergotong royong. Sesuai dengan salah satu asas nan membangun negara ini. Dengan menerapkan penerimaan kolaboratif secara daring, diharapkan boleh menumbuhkan kognisi berinteraksi sosial sebagai upaya kerjakan  membentuk pembelajaran bermakna.

Gambar 1. Berlatih Kolaboratif

Tujuan

Artikel disusun untuk memberikan deskripsi singkat tentang penerapan pembelajaran kolaboratif sebagai sebuah model pembelajaran daring

Eksemplar Pembelajaran Kolaboratif

Plong suatu proses penelaahan, seseorang harus memiliki pasangan. Ditulis oleh Dewey (dalam bukunya
Democracy and Education) pada tahun 1916, bahwa proses pembelajaran hendaknya dapat mengaktifkan siswa, membangun motivasi belajar siswa, memberi kesempatan pada pengetahuan untuk berkembang. Dari ketiga hal tersebut, maka  kegiatan pembelajaran  mudahmudahan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan minat pelajar, menggunakan prinsip tukar memahami dan saling menghormati suatu sama tidak dan materi pembelajaran lebih dikembangkan kepada konteks (mengkaitkan dengan maksud praktis). Berdasarkan konsep inilah pembelajaran kolaboratif dikembangkan.

Gambar 2 struktur berlatih kolaboratif

Metode kolaboratif dibangun dengan menggunakan beberapa hipotesis mengenai prinsip membangun proses sparing bermakna puas diri siswa (Smith & MacGregor, 1992). Asumsi tersebut antara enggak:

a.     Belajar aktif dan konstruktif

Pembelajaran bermakna bisa terjadi jikalau siswa terlibat aktif. Secara aktif pelajar mempelajari bahan pelajaran baik yang berbentuk cetak ataupun yang tersedia dalam jaringan internet. Kemudian murid mengintegrasikan materi baru dengan laporan nan telah dimiliki sebelumnya. Sreg jadinya, Siswa membangun makna baru nan terkait dengan materi latihan dan perkembangan konteks.

b.    Belajar berkembang sesuai dengan konteks:

Kegiatan pembelajaran sebaiknya dikaitkan dengan konteks yang berkembang dan pasti saja sudah dikenal oleh murid. Kaitan ini dapat menstimulus pecut sparing pelajar. Stimulus yang terbangun diharapkan bisa peserta tertarik untuk terlibat sreg proses penerimaan secara aktif dan tuntas.

c.    Kompleksitas latar pinggul pesuluh:

Perbedaan latar pinggul, gaya berlatih, camar duka, dan aspirasi siswa pasti terjadi. Siswa dibiasakan untuk menghormati dan menghargai setiap perbedaan nan terjadi, sehingga belajar secara bergotong royng bisa berlanjut dengan baik. Sampai-sampai, perbedaan keahlian lewat diperlukan untuk meningkatkan dur hasil belajar.

d.    Belajar merupakan proses sosial:

Proses berlatih merupakan proses interaksi social.pada proses pendedahan yang dibangun pada pola kolaboratif, peserta dibiasakan cak bagi membangun makna yang masin lidah dengan mandu bergotong royong atau bersama.

Secara sederhana, metode pengajian pengkajian sreg penataran kolaboratif makin menekankan pada pembermaknaan hasil belajar karena proses sosial yang dibangun oleh pelajar dengan bertumpu pada konteks sparing. Pendedahan bermakna terjadi karena interaksi sosial.

Pada pembelajaran kolaboratif, proses pembentukan makna diterima karena melibatkan proses negosiasi. Negosiasi yaitu proses ganti mengimbangkan diri para individu lega  proses berinteraksi sosial. Strategi untuk dapat memahami hal plong setiap cucu adam pasti berbeda. Strategi tersebut adv amat mengelepai pada pengetahuan dan latar belakang. Sehingga, tiap insan karuan membentuk konteks makna maslahat mengubah korban maupun situasi itu secara berbeda kembali. Sreg penelaahan kolaboratif, negosiasi diperlukan supaya hasil sparing dapat diterima bersama.

Proses negosiasi antar pesuluh boleh terjadi, jika guru memberi bantuan, kendati pelajar boleh menciptakan menjadikan hasil belajar bersama. Dan batuan hawa biasanya diberikan dalam buram penjelasan dan penyajian materi. Akan tetapi bantuan guru diberikan betul-betul bersifat sebagai “jembatan keledai” bagi siswa. akibat dari Tindakan master ini antara tak adalah terbentuknya hasil berlatih bermakna berdasarkan hasil negosiasi tersebut. Dan sekali pun terbentuk lagi suatu konsop bergotong royong antara guru dengan peserta dalam membangun konsep baru bakal siswa dan guru karuan saja. Lingkungan belajar kolaboratif berpusat pada usaha bersama, baik antar siswa maupun antara siswa dan guru, dalam membangun pemahaman, pemecahan masalah, atau makna, atau intern menciptakan suatu barang.

Prosedur Penataran Kolaboratif secara Daring

Guru, setelah mengarifi beberapa pengertian mengenai kolaboratif, tertarikkah panjenengan untuk menerapkan dalam proses pembelajaran. Bagaimana prosedur pembelajaran kolaboratif nan simpel dan tentu saja memperalat platform “daring”. Sebelum melangkah pada prosedur penerimaan, ada baiknya diingatkan Kembali tujuan pendedahan kolaboratif, adalah memaksimalkan proses gotong royong antara para murid dan guru, serta membangun semangat belajar sejauh hayat.

Gambar 3. Faktor penunjang belajar kolaboratif

Prosedur penataran kolaboratif secara daring dirumuskan dalam 3 tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan dan penilaian. Platform google dipilih karena sudah dikenal oleh masyarakat Pendidikan. Pemanfaatan mimbar diharapkan, meski guru dapat mengimajinasikan bagaimana proses pembelajaran daring diimplementasikan di kelas mereka.

Rajah 4. Prosedur Penataran Kolaboratif secara Online

Tahap Persiapan

Perlu dipahami bersama, bahwa pembelajaran daring sangat tak tersidai pada “video meet” nan terselenggara. Pembelajaran daring biasanya dapat berjalan dengan lancar, apabila dipersiapkan secara matang. Ancang dan perencanaan yang detil akan sangat mempengaruhi keberhasilan proses pengajian pengkajian. Bilang awalan yang mudah-mudahan dilakukan makanya guru apabila akan menerapkan contoh pembelajaran-e Kolaboratif dengan menunggangi platform google, antara lain:

a. Mengenali fitur google;

b. N kepunyaan email dengan menggunakan basis tribune google;

c. Menyiapkan siswa dalam satu inferior ke kerumahtanggaan google classroom

d. Menyiapkan RPP penelaahan

e. Menyiapkan hasil membiasakan yang akan dinilai (sebaiknya n domestik bentuk komoditas)

f. Menyiapkan modul, baik dalam bentuk wacana, audio atau video (moga berbasis hypermedia, karena akan memudahkan peserta buat mengebangkan materi) sesuai dengan kebutuhan RPP (modul dapat disimpan di google sites atau juga dapat serempak dimasukkan ke google classroom)

g. Meyiapkan lembar kerja lega google.docs

h. Menciptakan menjadikan untai kerja sejumlah gerombolan yang akan bekerja

i. Membagi siswa internal kerubungan kerdil (3 sampai dengan 5 orang)

Tahap Pelaksanaan

a. melangkaui google classroom, guru menerimakan materi kepada peserta nan mutakadim berada di internal kelas daring

b. murid mempelajari materi cak bimbingan secara mandiri terlebih dahulu

c. apabila memungkinkan guru memberi ramalan kerja dan sedikit penjelasan materi melampaui google meet atau google slides

d. pelajar berkarya internal kelompok kecil melalui lembar kerja yang sudah disiapkan maka itu guru, ada baiknya siswa intern kerumunan dilatih untuk:

  1. menargetkan tujuan belajar dan membagi tugas koteng-sendiri;
  2. berdiskusi, dan menuliskan pendapatnya dalam benang kerja;
  3. bersinergi ( melakukan elaborasi dan campur tangan serta revisi) dalam mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan solusi ki aib.
  4. menyepakati hasil diskusi, kemudian setiap pesuluh menggambar pengetahuan dengan komplet secara mandiri
  5. mengumpulkan tugas kelompok dengan lampiran tugas mandiri melampaui google classroom.

Tahap Evaluasi

Setelah pelaksanaan pendedahan secara daring selesai dan tugas siswa mutakadim dikumpulkan menerobos google classroom, maka tugas temperatur yakni:

a. menyelidiki amanat siswa, laporan mandiri disinkronkan dengan pengetahuan keramaian;

b. hawa mencatat beberapa kesuksesan hasil bekerja kelompok secara kolaboratif dan perkembangan siswa secara individual

c. guru mengerjakan perjumpaan dengan siswa baik secara chatting dengan pelajar di google classroom ataupun secara tatap muka melalui google meet. Pada persuaan ini dilakukan:

  1. apabila memungkinkan memberi kesempatan salah suatu kelompok bagi mempresentasikan hasil diskusinya secara kerubungan dan salah suatu siswa untuk mempresentasikan hasil kerjanya;
  2. guru menyampaikan tulisan pengerjaan tugas nan diolah maka dari itu kelompok maupun peserta,

d. Guru memberi kesempatan kepada pelajar untuk mengedit hasil kerja kelompoknya.

Gambar 5. Contoh produk kolaboratif

Intiha

Demikian guru sedikit gambaran mengenai Langkah Persiapan pembelajaran daring dengan memperalat model pembelajaran kolaboratif. Apakah model ini mudah diterapkan?, apakah pola ini menjujut untuk di coba? Jawabnya pasti doang terserah puas diri panjenengan sendiri. Yang jelas, Penerimaan kolaboratif adalah suatu strategi pembelajaran yang memfokuskan pada sikap atau perilaku bergotonyroyong  dalam berkreasi, tentu saja nan Namanya gotong royong diselesaikan maka dari itu dua orang atau bertambah dalam satu gerombolan.

Laksana pengunci, dideskripsikan pada kerangka 5 bahwa bergamat juga dapat diselesaikan secara kolaboratif daring. Perlu disampaikan pula, bahwa meratus lagi merupakan produk hasil belajar yang penting. Selamat berkarya temperatur…

Rujukan

Anita, Sri. 2009. Teknologi Pendedahan. Surakarta : UNS

Rusman. (2012). Model-Hipotetis Penataran. Depok: PT Rajagrafindo Persada

Baharuddin. (2008). Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Darmawan, D. (2014). Pengembangan E-Learning: Teori dan Desain. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Gokhale, Anuradha A. 1995. Collaborative Learning Enhanches Critical Thinking.Journal of Technology Education. 1 (7) 1-9.

Apriono, D. 2013. Pembelajaran Kolaboratif: Suatu Landasan untuk Membangun Kesetiakawanan dan Kegesitan Kerjasama. FKIP Jamiah PGRI Ronggo Kenur Tuban. No..01.

Source: https://lpmpjateng.go.id/penerapan-pembelajaran-kolaboratif-sebagai-model-pembelajaran-daring/

Posted by: and-make.com